PEKANBARU (KR) President Director Retail Connection Indonesia Tedy Marco menyatakan usaha mikro kecil menengah (UMKM) harus bisa memanfaatkan peluang di tengah melemahnya pemasaran produk besar. Menurut Tedy, seharusnya produk UMKM berkembang lebih baik ketika terjadi kenaikan harga dan isu global negatif sekarang ini.
“Sayangnya, pengusaha lokal tidak memanfaatkan kondisi melemahnya brand besar sebagai dampak isu Palestina. Padahal, ini kesempatan baik untuk memajukan usaha,” kata Tedy.
Pernyataan ini disampaikan dalam Diskusi Panel Outlook Ekonomi Indonesia dan Riau 2025 di Balairung Siak Sri Indrapura, Kampus Unri, Jl Pattimura, Kota Pekanbaru, Sabtu (9/2). Pertemuan dibuka Koordinator Program Studi Strata 3 Manajemen Prof. Dr. Susi Hendriyani, SE. M. Si dan diikuti puluhan mahasiswa sebagai peserta.
Kondisi tersebut berbeda dengan pengusaha besar yang selalu mencari celah untuk keluar dari kesulitan bisnis. Contohnya, makanan cepat saji luar negeri yang mencoba bertahan dengan membuat gerai di pinggir jalan untuk mengatasi berkurangnya konsumen.
“Pengusaha besar selalu berusaha keluar dari kesulitan. Apapun masalahnya akan cari celah,” kata Tedy yang juga Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta.
Ia mengakui rendahnya pertumbuhan ekonomi saat ini mengganggu dunia usaha. Salah satu indikatornya, pengunjung pasar semakin sepi karena kenaikan harga barang. Menurut Tedy, pengusaha pusat perbelanjaan kelas menengah merasakan dampak kondisi yang tidak menguntungkan.
“Untuk melihat ekonomi membaik atau tidak, simpel saja. Kita lihat pasar, sepi atau tidak, harga dulu berapa, sekarang bagaimana. Di dunia kami, mal middle up itu tidak susah. Tapi mal middle low sepi karena daya beli masyarakat turun. Jadi ekonomi tidak baik-baik saja,” kata Tedy.
Ia menjelaskan salah satu tantangan dalam mengembangkan UMKM adalah kualitas kemasan dan disiplin usaha. Tedy mengaku sering menemukan produk lokal kurang memperhatikan packaging. Berbeda dengan produk impor seperti Korea dan Jepang yang lebih menarik. “UMKM ada kelemahan dalam packaging. Nah, disini pentingnya peran pemerintah mendorong agar UMKM lebih maju,” kata Tedy.
Diskusi juga menghadirkan narasumber Ketua Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Ekonomi (Ikafe) Unri DR. Djonieri, SE., AK., MBA., CA, dosen FEB Unri Dr. H. Edyanus Herman Halim, SE., MS., CCFA. Pertemuan tersebut disambut antusias mahasiswa dan dosen Unri sebagai masukan akademis untuk pengembangan ilmu ekonomi. (FA)