Paripurna Istimewa DPRD Riau, Gubernur Bacakan Pidato Perdana

0
65
Ketua DPRD Riau Septina Primawati (tengah) saat memimpin sidang paripurna istimewa DPRD Riau dengan agenda pembacaan pidato perdana Gubernur Riau, Senin (11/3/2019). Foto : Istimewa

PEKANBARU, KANALRIAU.COM – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau melaksanakan sidang paripurna istimewa, Senin (11/3/2019). Dimana dalam sidang tersebut, hadir Gubernur Riau Syamsuar beserta Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution. Sidang dipimpin langsung Ketua DPRD Riau Septina Primawati dan dihadiri oleh Anggota DPRD Riau lainnya.

Dalam sidang tersebut, Gubernur Riau Syamsuar berkesempatan membacakan pidato perdana. Dimana dalam pidatonya ada banyak persoalan yang turut menjadi atensi dirinya bersama sang wakil. Diantaranya adalah kualitas infrastuktur dasar seperti jalan dan jembatan yang terbilang sangat rendah.

Ia memaparkan, pada tahun 2017 panjang jalan provinsi terakmulasi sepanjang 2.799 kilometer. Dengan kondisi rusak sedang sampai rusak berat mencapai 55,18 persen atau lebih dari total panjang jalan. Sedangkan untuk jenis konstruksi perkerasan jalan sub standar. Baik itu kerikil, tanah atau belum tembus mencapai sebesar 34,58 persen. Indeks aksesibiltas rata-rata tingkat provinsi 0,49, dengan kategori rendah.

Gubernur Riau Syamsuar saat membacakan pidato perdananya dalam sidang paripurna istimewa DPRD Riau, Senin (11/3/2019). Foto : istimewa

“Indeks aksesibiltas rata-rata per kabupaten kota sangat rendah sampai rendah kecuali di Kota Pekanbaru yang tinggi dan Dumai kategori sedang,” ucap Syamsuar.

Kondisi itu menurut dia belum sesuai dengan parameter kinerja standar pelayanan minimum (SPM) untuk indeks aksesibiltas provinsi Riau. Oleh karena itu ia merasa perlu adanya penambahan panjang jalan sesuai dengan kebutuhan. Terutama mendukung program prioritas dan pengembangan potensi wilayah. Seperti pembangunan ruas jalan yang menunjang konektivitas ke destinasi wisata, kawasan strategis nasional dan provinsi, kawasan pesisir dan perbatasan, kawasan sumber bahan baku industri serta membuka keterisoliran serta tematik lainnya.

“Untuk mencapai semua itu maka diperlukan strategi dan arah kebijakan untuk peningkatan kuantitas dan kualitas Infrastruktur dasar dan pembangunan berwawasan lingkungan. Seperti membangun konektifitas, memantapkan jalan dan jembatan serta pelabuhan sistem jaringan
transportasi yang terintegrasi,” tuturnya.

Ia menambahkan, pembangunan jalan juga disesuaikan dengan kebutuhan terutama mendukung program prioritas dan pengembangan potensi wilayah, seperti ruas jalan yang menunjang konektivitas ke destinasi wisata, kawasan strategis nasional dan provinsi, kawasan pesisir dan perbatasan serta kawasan sumber bahan baku industri.

Gubernur Riau Syamsuar dan Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution berfoto bersama pimpinan dan Anggota DPRD Riau usai pembacaan pidato perdana, Senin (11/3/2019). Foto : istimewa

Tak hanya menyoroti pembangunan infrastuktur, Syamsuar juga menyoroti kesenjangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) antar kabupaten kota di Provinsi Riau yang diukur dari capaian IPM Kabupaten Kota. Setidaknya, ada 7 kabupaten/kota yang IPM-nya berada dibawah rata-rata provinsi (71,79). Yakni Kabupaten Pelalawan, Kuantan Singingi, Indragiri Hulu, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Indragiri Hilir dan Kabupaten Kepulauan Meranti.

“Rendahnya IPM kabupaten kota disebabkan oleh capaian komponen pembentuk IPM, seperti Angka Harapan Hidup, dimana 11 Kabupaten/Kota berada dibawah rata-rata provinsi 70,79 tahun dan Rata-rata Lama Sekolah terdapat 7 Kabupaten Kota berada dibawah rata-rata provinsi 8,76 tahun,” ungkapnya.

Syamsuar juga menyoroti masalah keterbatasan akses air bersih dan air minum yang berasal dari air leding/perpipaan. Dengan rincian kebutuhan air bersih rumah tangga dengan memanfaatkan air sumur (37,20%), jasa air isi ulang dan air kemasan (36,16%) serta terdapat 23,45% rumah tangga yang bergantung pada ketersediaan air hujan. Demikian juga dengan keperluan memasak, mandi, cuci dan sebagainya, rumah tangga pada umumnya memanfaatkan air sumur (78,44%) serta air hujan (13,63%).

Kemudaian, untuk air limbah dan sampah belum terkelola dengan baik, sementara tingkat pertumbuhan penduduk dan industri relatif cukup tinggi, aktivitas tersebut dipastikan menghasilkan air limbah dan sampah, baik skala rumah tangga maupun industri. Air limbah dan sampah tersebut jika tidak terkelola dengan baik akan mengancam upaya penyehatan lingkungan khususnya terhadap kualitas air permukaan dan air sungai yang notabene sebagai sumber air baku untuk berbagai keperluan rumah tangga.

Usai pembacaan pidato perdana, Ketua DPRD Riau Septina Primawati meapresiasi apa yang menjadi perhatian Syamsuar. Ia memastikan DPRD akan mendukung program kerja Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau. Apalagi program yang sangat bersentuhan dengan masyarakat. Politisi Golkar itu juga meminta agar hubungan antara pemprov dengan DPRD yang selama ini telah terjalin baik bisa ditingkatkan lagi dimasa akan datang.

“Semoga dibawah kepemimpinan Pak Syamsuar hubungan antara DPRD dengan Pemprov Riau bisa berjalan lebih baik lagi kedepannya,” sebut Septina.(adv)


Penulis : Zulfiyanti

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here